Aksi
my teacher

Mr. Thomas Racer

By: Mharta A
You Are Not Alone
Kalau tulisannya saya kasih warna Merah dan miring berarti berkata di batin okay
Cerita ini aku buat bedasarkan Kesedihan yang di alami dari teman, temannya saya . Tolong di simak ya!
Hai, Aku Vincent Dominic, aku kelas 7 di SMPN 1 . Aku itu orangnya, gak pintar, gak bodoh, bisa di bilang sedeng-sedengan *PD abis*. Tapi walaupun begitu aku lumayan populer kog (populer? Mazak? *tendang*). Hehehe… Hebat banget bukan? Yah… Memang sih tapi ya mau bilang apa lagi? Aku kan gak bisa ngalahin si jenius Alice Vessalius di kelasku?
Wah… Lupa belum mengenalkan
Karena dia mempunyai penyakit kulit. Penyakit kulit itu seperti jerawat tapi banyak, ada di muka, pipi, leher, intinya banyak deh. Terkadang penyakit itu sering keluar darahnya dan bernanah. Hiii~~~~~. *merinding*. Gara-gara ia di jauhi oleh teman-temannya itu, dia selalu memakai jaket, saat pelajaran, jam olah raga pun dia juga memakai jaket. Kalau bicara sama orang lain pasti menunduk. Dia juga sering di ejek dan di gosipin. Aku kasihan melihatnya seperti itu, di ejek dan di gosipin, kasihan bukan? Suatu hari aku mendengar pembicaraan sang ketua kelas Risa beserta, Anastasya, Rika, Rico, Chika tapi jangan salah sangka dulu, Rico itu cewek lho.
”Eh, penyakitnya Alice itu menular gak sih? Aku jijik setiap deket ma dia” tanya Rico
”Penyakit bernanah pasti menular!” jawab Anastasya
”Laporin ke guru yuk! Jangan sampai temen kita menular.” usul Risa
“Kamu yang ngomong ya Ris, kamu kan ketua kelas” kata Chika
“Ah, Ogah aku. Kamu aja Rika, kamu kan berani” bantah Risa
”Yah... maless” jawab Rika
Aku hanya menggeleng-geleng kepala *kayak dugem aja*. Seharusnya ngomongin orang yang jauhnya ± 4 m gitu. Malah ngomongin orang yang gak jauh dari mereka, Dasar cewek aneh! Bagaimana bisa ngomongin orang dengan santai begitu? Dan aku pun melihat kepala Alice semakin tertunduk. Ingin sekali menghiburnya...
Tapi aku gak ahli tentang menghibur orang.
YA-HA!!!~~~~ Hari ini olahraganya bebas. Kami bisa bermain sepuasnya. Kesempatan yang bagus! Aku bisa bermain basket sampai puas! Maka, aku mengambil bola basket dan men-dribblenya.
”hehehe ternyata aku masih mahir ya?” gumamku dengan gaya PD
”Hoi, Vincent! Maen voli yuk?!” ajak Suzaku. O,ya Suzaku itu sahabatku sejak SMP. Dia atlet andalan di sini. Ku lihat di belakang ada Reika, Ketsuya, dan Konishi.
”gak deh, gue pengen maen basket aja” kataku
”oke” jawab Suzaku yang akhirnya oergi ke lapangan voli. Lalu aku kembali mendribble bola dan aku memposisikan diriku di daerah three-point
Bersiap..... Konsentrasi.... dan
PLUNG
Dengan mudahnya aku memasukkan bola itu ke ring dengan mulus. Aku pun menyeringai lebar. Padahal aku udah lama kagak maen basket tapi tetep aja jago maennya.
Dan aku merasa sedang ada yang bertepuk tangan untukku *GR amat*. Aku pun menengok kebelakang dan ternyata yang memberiku tepuk tangan adalah Vessalius. Wowow.... Ternyata Alice memakai celana pendek dan terlihat kalau kakinya terlihat putih mulus seperti salju. Tapi masih tetap memakai jaket. Apa dia tidak merasa kepanasan ya? Pikirku. Cewek itu tersenyum simpul
”kau hebat Dominic! Kau bisa melakukan Three-point!” puji Vessalius
Aku pun tersipu dengan kata-kata Vessalius. Karna di puji oleh anak yang jenius seperti Vessalius. ”Ehehehe.... biasa aja. Aku dulu pernah ikut klub, tapi sekarang udah keluar. Padahal udah masuk ke kelompok B” kataku
”Kelompok B?” heran Vessalius
”Ya, di klub basket, ada 4 tingkatan, D untuk amatiran, C untuk lumayan bagus, B untuk Ahli, dan A untuk profesional.” terangku
”Bwah... Hebat sekali kau ini! Ajari aku mendribble kau bisa?! Karna aku tak bisa mendribble”
”Baiklah. Kalau begitu segera ambil bolanya” terangku
”udah” Vessalius menunjukkan bola yang sedari tadi dia bawa
”Kalau mau mendribble, jangan memantulkan bola dengan cara menepuk-nepuknya. Kebanyakan orang melakukan kesalahan itu,” terangku. Ehehe, udah mirip pelatih nggak caraku bicara?
”Oh, terus?” tanya Vessalius antusias
”Jadi, caranya mendribble itu bola didorong atau ditekan ke bawah,” lanjutku. “Trus, tangannya jangan kaku. Lemas saja. Telapak tangan membuka.”
Vessalius tampak sedang mengikuti instruksiku. Hmmmm... Gak salah kalau dia ini disebut anak jenius. Dia begitu pintar menangkap maksud dari ucapanku
”Begini kah?” tanya Vessalius sambil memperagakannya.
Aku mengangguk. “Yup! Trus kalo mau mendribble sambil lari, bolanya kamu jatuhkan agak ke depan. Oya, kalo dribble jangan tepat di depan badan, tapi di samping kanan badan agar kita bisa leluasa berlarinya.”
”Wakh, Dominic memang hebat!”
”Ehehe, tapi tak sehebat lo maen Anggar!”
”Emmm..... tidak juga, kok,” kata Vessalius dengan muka memerah karena malu. Aku terpukau. Ternyata anak ini manis juga kalau sedang malu-malu begitu. “E-eh, ajarin aku shoot juga, dong!”
“Ok! Shoot untuk anak cowok itu pakai 1 tangan. Jadi, pertamanya harus latihan keras dulu agar tangannya kuat. Kalau anak cewek biasanya dorong pakai 2 tangan. Tapi, ada juga, sih, anak cewek yang pakai 1 tangan.”
Vessalius terlihat mengerti. “Oh, begitu ya?”
“Iya, sekarang coba kau praktekkan!”
Vessalius mempraktekkannya. Ups, bolanya nggak masuk. Tapi, memang tadi ada yang salah dengan gerakannya.
“Eh, bukan begitu! Cara pegang bolanya begini,” kataku sambil memperagakannya.
Vessalius mencoba menirukan. “Begini?”
Reflek tanganku bergerak untuk membetulkan posisi tangannya. “Bukan, harusnya tangan-”
Ups, kayaknya aku lupa kalau tangan Vessalius terkena penyakit kulit. Sebelum sempat tanganku memegang pergelangannya, Vessalius sudah menjauhkan tangannya dari tanganku. Aku jadi bingung. Apakah aku harus senang karena nggak menyentuh tangannya itu atau jijik karena melihat ‘itu’ ya? Vessalius membalikkan tubuhnya. Aku merasa serba salah.
“Eh, mmm…” aku bingung mau ngomong apa.
“Uh, terima kasih atas penjelasannya, Dominic… Mmm, aku mau ke toilet.” Vessalius pun berlari ke arah toilet. Meninggalkan aku yang masih bingung mau berekspresi kayak gimana. Lalu datanglah Suzaku.
“Vincent! Menurutmu Vessalius itu gimana?” tanyanya.
Aku menatapnya heran. “Biasa aja, kenapa?”
“Emang kamu nggak jijik?”
Aku serasa seperti ditonjok diperut saat dilontari pertanyaan itu. Jijik, sih, iya. Bukan. Bukan Vessalius yang membuatku jijik, hanya penampakan penyakitnya itu. Siapa juga yang nggak jijik kecuali dokter? Tapi, tetap saja ‘jijik’ bukan kata yang tepat untuk menjauhinya. Sumpah, dia anaknya baik, kok!
“Mm, yah… Gitu, deh…” jawabku sekenanya. Aku merasa sangat bersalah saat mengucapkan hal ini. Aku merasa diriku kejam banget…
“Huff, untung tadi tu anak nyadar soal penyakitnya! Kalo nggak, elo mungkin sudah tertular!” cetus Reika. Lalu aku diajak ke kantin. Sejenak sebelum kami meninggalkan lapangan, aku melihat ke arah tempat yang baru saja ku tinggalkan. Di situ sudah ada Vessalius yang asyik memainkan bola basket sendirian. Astaga, ingin rasanya aku berlari kembali ke sana dan menemaninya bermain…
TO BE CONTINUED






